Tanggungjawab seorang suami kepada istri-istrinya adalah dalam bentuk tanggung jawab kepemimpinan atas mereka. Seorang suami wajib untuk mendidik istrinya, menafkaninya, melindunginya dan kewajiban lain sebagai seorang suami. Namun bila ternyata istri tetap membangkang, padahal suami telah menunaikan kewajibannya dengn baik, seperti membangkangnya Daripenjelasan Syaikh Ibnu Abu Zaid menunjukkan bahwa kadang cobaan suami itu pada istrinya adalah karena kekurangan agama atau memang cobaan untuknya, moga dapat menghapus dosa-dosa. Ibnul 'Arabi rahimahullah berkata mengenai firman Allah, فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا lagisatu firman allah swt yang bermaksud: "dan (ketahuilah) bahawa seorang pemikul itu tidak akan memikul dosa perbuatan orang lain dan jika berat tanggungannya (dengan dosa), lalu memanggil (orang lain) untuk menolong agar dipikul sama bebanan tersebut, maka tidak akan dapat dipikul sedikitpun daripadanya walaupun orang yang meminta cash. Ustadz, apakah benar dosa istri atau anak itu ditanggung oleh suami? Misalkan dosa istri karena tidak memakai hijab? Kaidah secara umum yang disebutkan Allah dalam al-Quran adalah seseorang tidak akan menanggung dosa orang lain. وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى Seseorang tidak akan menanggung dosa orang lain. Pernyataan ini Allah sebutkan 4 kali dalam al-Quran, di surat al-An’am 164, al-Isra 15, Fathir 18, dan az-Zumar 7. Karena setiap jiwa menanggung amalnya sendiri-sendiri. Allah berfirman, كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ “Setiap jiwa tergadaikan dengan amalnya.” QS. al-Muddatsir 38. Termasuk maksiat yang dilakukan seseorang, dia sendiri yang akan menanggungnya. Bukan orang lain. Mendapat Cipratan Dosa Hanya saja, bisa saja orang mendapatkan cipratan dosa, karena maksiat yang dilakukan orang lain. Dan itu terjadi karena beberapa sebab. Diantaranya, Pertama, Menjadi pelopor maksiat Gara-gara keberadaan orang ini, masyarakat menjadi kenal maksiat. Atau semakin berani melakukan maksiat. Sehingga dia turut mendapatkan saham dosa dari semua orang yang terpengaruh dengannya dalam melakukan maksiat. Karena yang Allah catat dari kehidupan kita, tidak hanya aktivitas dan amalan yang kita lakukan, namun juga dampak dan pengaruh dari aktivitas dan amalan itu. Allah berfirman di surat Yasin, إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ “Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata Lauh Mahfuzh.” QS. Yasin 12 Dalam hadis dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyebutkan nilai dosa akibat menjadi pelopor maksiat, مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْء “Siapa yang mempelopori satu kebiasaan yang buruk dalam islam, maka dia mendapatkan dosa keburukan itu, dan dosa setiap orang yang melakukan keburukan itu karena ulahnya, tanpa dikurangi sedikitpun dosa mereka.” HR. Muslim 2398. Orang ini tidak mengajak lingkungan sekitarnya untuk melakukan maksiat yang sama. Orang ini juga tidak memotivasi orang lain untuk melakukan perbuatan dosa seperti yang dia lakukan. Namun orang ini melakukan maksiat itu di hadapan banyak orang, sehingga ada yang menirunya atau menyebarkannya. Karena itulah, anak adam yang pertama kali membunuh, dia dilimpahi tanggung jawab atas semua kasus pembunuhan karena kedzaliman di alam ini. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, لاَ تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْمًا إِلَّا كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ دَمِهَا “Tidak ada satu jiwa yang terbunuh secara dzalim, melainkan anak adam yang pertama kali membunuh akan mendapatkan dosa karena pertumpahan darah itu.” HR. Bukhari 3157, Muslim 4473 dan yang lainnya. Kedua, mengajak orang lain melakukan maksiat Dia mengajak masyarakat untuk bermaksiat, meskipun bisa jadi dia sendiri tidak melakukannya. Merekalah para juru dakwah kesesatan, atau mereka yang mempropagandakan kemaksiatan. Allah berfirman, menceritakan keadaan orang kafir kelak di akhirat, bahwa mereka akan menanggung dosa kekufurannya, ditambah dosa setiap orang yang mereka sesatkan, لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ Mereka akan memikul dosa-dosanya dengan penuh pada hari kiamat, dan berikut dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun bahwa mereka disesatkan. QS. an-Nahl 25 Imam Mujahid mengatakan, يحملون أثقالهم ذنوبهم وذنوب من أطاعهم، ولا يخفف عمن أطاعهم من العذاب شيئًا Mereka menanggung dosa mereka sendiri dan dosa orang lain yang mengikutinya. Dan mereka sama sekali tidak diberi keringanan adzab karena dosa orang yang mengikutinya. Tafsir Ibn Katsir, 4/566. Ayat ini, semakna dengan hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, مَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا “Siapa yang mengajak kepada kesesatan, dia mendapatkan dosa, seperti dosa orang yang mengikutinya, tidak dikurangi sedikitpun.” HR. Ahmad 9398, Muslim 6980, dan yang lainnya. Ketiga, Membiarkan kemunkaran terjadi di tengah keluarganya, padahal dia mampu mengingatkannya Nabi shallallahu alaihi wa sallam mewajibkan kita untuk mengingkari kemungkaran yang ada di hadapan kita. Baik dengan tangan, lisan, atau minimal hatinya membenci. Dalam hadis dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ “Siapa yang melihat kemungkaran hendaklah meluruskannya dengan tangannya, maka jika tidak sanggup hendaklah meluruskan dengan lisannya, jika tidak sanggup hendaklah dia meluruskan dengan hatinya dan ini adalah iman yang paling lemah.” HR. Muslim 49. Bagian dari pengingkaran terhadap kemungkaran itu adalah menjauhinya dan bergabung dengan pelaku kemungkaran. Allah ingatkan para hamba-Nya untuk tidak kumpul dengan orang munafiq, وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آَيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ “Sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan oleh orang-orang kafir, maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sungguh jika kalian tidak menyingkir, berarti kalian serupa dengan mereka.” QS. an-Nisa 140 Allah sebut, orang yang ikut nimbrung bersama orang kafir atau orang munafiq dalam melakukan kekufuran dengan “jika kalian tidak menyingkir, berarti kalian serupa dengan mereka.” Al-Qurthubi mengatakan, فَدَلَّ بِهَذَا عَلَى وُجُوبِ اجْتِنَابِ أَصْحَابِ الْمَعَاصِي إِذَا ظَهَرَ مِنْهُمْ مُنْكَرٌ ؛ لِأَنَّ مَنْ لَمْ يَجْتَنِبْهُمْ فَقَدْ رَضِيَ فِعْلَهُمْ ، وَالرِّضَا بِالْكُفْرِ كُفْرٌ ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلّ إِنَّكُمْ إِذاً مِثْلُهُمْ . فَكُلُّ مَنْ جَلَسَ فِي مَجْلِسِ مَعْصِيَةٍ وَلَمْ يُنْكِرْ عَلَيْهِمْ يَكُونُ مَعَهُمْ فِي الْوِزْرِ سَوَاءً Ayat ini menunjukkan wajibnya menjauhi pelaku maksiat ketika mereka menampakkan kemungkaran. Karena orang yang tidak menjauhi kemungkaran mereka, berarti ridha dengan perbuatan mereka. Dan ridha dengan perbuatan kekufuran adalah kekufuran. Allah menegaskan, “Berarti kalian seperti mereka.” Sehingga semua yang duduk bersama di majlis maksiat, dan tidak menghingkarinya, maka dosa mereka sama. Tafsir al-Qurthubi, 5/418. Hubungan Suami, Istri dan Anak Ketika suami sebagai kepala rumah tangga, membiarkan istrinya atau putrinya bermaksiat, menampakkan aurat, maka kepala keluarga turut mendapatkan dosanya. Karena berarti dia menyetujui kemaksiatan yang dilakukan keluarganya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahkan memberikan ancaman keras bagi suami semacam ini, dan beliau sebut dengan gelar dayuts lelaki tanpa cemburu. Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ثَلَاثَةٌ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ، وَالْمَرْأَةُ الْمُتَرَجِّلَةُ، وَالدَّيُّوثُ Ada tiga orang yang tidak akan Allah lihat pada hari kiamat orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang meniru gaya lelaki, dan dayuts. HR. Ahmad 6180, Nasai 2562, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth. Mengenai pengertian dayuts, dalam kamus al-Misbah dinyatakan, أن الديوث هو الرجل الذي لا غيرة له على أهله Dayuts adalah lelaki yang tidak memiliki rasa cemburu terhadap istrinya. al-Mishbah al-Munir, madah da – ya – tsa. Berbeda ketika suami telah mengingatkan istrinya atau putrinya untuk meninggalkan yang terlarang, sudah diberi peringatan, bahkan ancaman dan hukuman, namun mereka tetap melanggar, dan suami tidak bisa mengambil tindakan apapun, maka suami tidak menanggung dosa mereka. Sebagaimana ini yang terjadi pada Nabi Nuh dan Nabi Luth. Istri kedua orang soleh ini mengkhianati suaminya. Mereka turut dihukum oleh Allah, setelah Allah menyelamatkan kedua nabi-Nya – alaihis shalatu was salam. Wallahu a’lam. [] Sumber Konsultasi Syariah Tanggungjawab seorang suami sangat berat dalam Islam. Mereka bertanggungjawab untuk menyediakan nafkah serta mendidik ahli keluarga dengan ilmu agama yang mencukupi. Malah, sikap seorang anak dan isteri juga sering dikaitkan dengan didikan suami atau ayah. Jika si isteri atau anak-anak berkelakuan tidak elok, perbuatan mereka akan dinisbahkan kepada ketua keluarga. Pun begitu, sejauh mana mereka bertanggungjawab atas kesalahan isteri dan anak-anak? Bagaimana pula dengan kisah isteri derhaka terhadap suami mereka yang soleh seperti kisah Nabi Nuh dan Nabi Luth? Untuk lebih memahami maksud sebenar suami menganggung dosa isteri’, mari kita baca penjelasan oleh Mufti Wilayah Persekutuan seperti berikut. Soalan Adakah sahih suami akan menanggung segala dosa isterinya? Jawapan Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, selawat dan salam kepada junjungan besar Nabi Muhammad SAW, ahli keluarga baginda SAW, sahabat baginda SAW serta orang-orang yang mengikuti jejak langkah baginda SAW. Di dalam al-Quran banyak ayat yang memerintahkan agar setiap daripada manusia itu menjaga diri mereka dan juga orang-orang yang berada di sekitar mereka daripada melakukan maksiat atau dosa. Antara firman Allah SWT yang menceritakan perkara tersebut adalah Firman Allah SWT يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا al-Tahrim6 Maksudnya “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah diri kamu serta ahli keluarga kamu dari api neraka.” Syeikh Muhammad Sayyid Thanthawi dalam tafsirnya menyatakan makna ayat ini ditujukan kepada setiap insan yang mengaku beriman kepada Allah SWT agar mereka menjauhi diri mereka daripada api neraka dengan melakukan perkara kebaikan serta menjauhi diri daripada melakukan perkara maksiat dan ahli keluarga mereka dengan cara menasihati mereka, menunjukkan jalan yang benar kepada mereka dan menyuruh mereka melakukan perkara yang ma’ruf serta mencegah diri daripada melakukan perkara munkar. Di samping itu, Imam al-Qurthubi menukilkan daripada pendapat Qatadah dan Mujahid bahawa maksud memelihara diri adalah memelihara diri dengan menjaga tingkahlaku dan memelihara ahli keluarga pula adalah dengan menasihati mereka. [Lihat Tafsir al-Wasith, 476/14] Setiap insan tak akan menanggung dosa orang lain Berdasarkan soalan di atas, secara asalnya di dalam syara’ setiap insan itu tidak akan menanggung dosa orang lain. Ini berdasarkan firman Allah SWT وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا al-An’am164 Maksudnya “Dan tiadalah kejahatan yang diusahakan oleh setiap orang itu melainkan orang itu sahaja yang akan menanggung dosanya.” Imam al-Hafiz Ibn Kathir mengatakan ketika menafsirkan ayat ini bahawa ayat ini menceritakan perihal hari Kiamat ketika berlakunya pembalasan, hukuman dan pengadilan daripada Allah SWT. Selain itu, setiap jiwa itu akan diberi ganjaran berdasarkan setiap amalannya. Jika baik amalannya, maka baiklah pembalasannya. Dan jika buruk amalannya, maka buruklah pembalasannya. Gambar hiasan. Kredit Google Ini kerana, setiap jiwa manusia itu tidak akan memikul kesalahan dosa orang lain. Hal ini membuktikan akan keadilan Allah SWT sepertimana firman Allah SWT [Lihat Tafsir Ibn Kathir, 383-384/3] وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۚ وَإِن تَدْعُ مُثْقَلَةٌ إِلَىٰ حِمْلِهَا لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ Fatir18 Maksudnya “Dan ketahuilah bahawa seorang pemikul itu tidak akan memikul dosa perbuatan orang lain dan jika berat tanggungannya dengan dosa, lalu memanggil orang lain untuk menolong agar dipikul sama bebanan tersebut, maka tidak akan dapat dipikul sedikitpun daripadanya walaupun orang yang meminta pertolongannya itu daripada kaum kerabatnya sendiri.” Melihat kepada ayat dan kenyataan daripada Imam Ibn Kathir di atas, jelas menunjukkan di dalam syara’ bahawa setiap insan yang sempurna akal fikirannya dan telah baligh mukallaf, dosanya itu akan ditanggung oleh dirinya sendiri tidak kira apa statusnya sama ada dia seorang suami, isteri, ayah, ibu, anak atau selain daripadanya. Dosa suami jika tidak bertanggungjawab Adapun, suami itu atau sesiapa sahaja akan berdosa bila mana dia tidak melaksanakan tanggungjawab yang telah diamanahkan kepadanya seperti menasihati isteri dalam perkara yang ma’ruf dan menghalangnya daripada melakukan perkara yang munkar. Perkara ini ada dinyatakan di dalam sebuah hadith iaitu Daripada Abdullah bin Umar RA, bahawa Nabi SAW bersabda أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ، وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ Maksudnya “Ketahuilah bahawa setiap daripada kamu adalah pemimpin, dan kamu akan ditanya berkaitan orang dibawahnya. Seorang Imam ketua atau pemimpin ke atas manusia adalah pemimpin dan dia akan ditanya mengenai kepimpinannya. Dan seorang lelaki adalah pemimpin kepada keluarganya dan dia akan ditanya berkaitan perihal mereka ahli keluarganya.” [Riwayat Muslim 1829] Imam al-Nawawi berkata yang dimaksudkan dengan pemimpin di dalam hadith ini sebagaimana yang dikatakan oleh ulama’ adalah seorang penjaga yang telah diamanahkan dan beriltizam dalam memperbaikkan setiap perkara yang dilakukan terutama orang yang berada dibawah penjagaannya. Jika terdapat kekurangan terhadap orang berada dibawah penjagaannya, maka dia dipertanggungjawabkan untuk mengadilinya jika berlaku kezaliman serta menguruskan keperluan yang diperlukannya orang yang berada di bawah sama ada perkara itu melibatkan agama, dunia atau mana-mana perkara yang berkaitannya. [Lihat al-Minhaj Syarah Sahih Muslim, 213/12] Selain itu juga, di dalam al-Quran terdapat firman Allah SWT yang menunjukkan bahawa lelaki merupakan pemimpin buat wanita. Antaranya Firman Allah SWT الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ al-Nisa’34 Maksudnya “Kaum lelaki itu adalah pemimpin dan pengawal yang bertanggungjawab terhadap kaum perempuan.” Gambar hiasan. Kredit Google Suami wajib menyuruh wanita patuhi hak Allah Kata Syeikh al-Sa’di, maksud lelaki adalah pemimpin di dalam ayat ini adalah kaum lelaki wajib menyuruh wanita isteri menunaikan hak-hak Allah seperti menjaga perkara-perkara yang fardhu dan menghalang mereka daripada melakukan perkara maksiat. Ayat ini menunjukkan tanggungjawab kaum lelaki suami terhadap wanita isteri dalam memastikan mereka menjalankannya hak-hak tersebut. [Lihat Taysir al-Karim, 177] Tak berdosa jika telah laksanakan tanggungjawab sebaiknya Bagi menjawab persoalan di atas, kami katakan bahawa si suami sama sekali tidak akan menanggung dosa isterinya jika si suami itu telah melaksanakan tanggungjawabnya dengan sebaik mungkin. Adapun, jika si isteri masih melakukan perkara maksiat setelah ditegur dinasihati atau si isteri melakukan maksiat di belakang suami tanpa pengetahuan suami maka si isteri itu tetap berdosa dan suami tidak akan sama sekali menanggung dosa-dosa tersebut. Ini kerana, tanggungjawab adalah untuk menasihati isteri kerana ia merupakan satu kewajipan yang perlu dilakukan dan perkara itulah yang akan dipersoalkan di hadapan Allah SWT di Akhirat kelak jika si suami cuai dalam mendirikan hal tersebut. Untuk itu, kami tegaskan bahawa kenyataan bahawa suami akan menanggung segala dosa isteri adalah tidak benar kerana ia bertentangan dengan dalil-dalil yang telah kami sebutkan di atas. Penutup Kesimpulannya, setiap insan mukallaf akan menanggung dosanya sendiri di hadapan Allah SWT apabila tiba hari pengadilan dan setiap insan itu sama sekali tidak akan membawa atau menanggung dosa orang lain apabila dia telah melaksanakan tanggungjawabnya dengan sebaik mungkin. Akhirnya, semoga Allah SWT mengurniakan kita isteri-isteri yang solehah dan menjadikan keluarga yang terbina itu penuh dengan sakinah ketenangan, rahmah rahmat dan mawaddah kasih sayang. Amin. Wallahua’lam Sumber Mufti Wilayah Persekutuan JAKARTA - Seorang suami bertanggung jawab atas istri dan anak-anaknya karena ia merupakan kepala keluarga. Namun, apakah suami akan turut menanggung dosa apabila istrinya tidak mau berjilbab. Dilansir dari About Islam, Selasa 2/2, Associate Professor di department of Islamic Studies in English, Al-Azhar University, Mesir, Mohammad S. Alrahawan, menyatakan Allah telah memerintahkan para suami dan ayah untuk mengambil tanggung jawab mereka dalam mengajar dan memberikan nasihat yang tulus kepada istri dan sesamanya. Di dalam Alquran Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, lindungi dirimu dan keluargamu dari api yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjagaan malaikat-malaikat yang keras dan kejam, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan," At-Tahrim ayat 6.

hadits dosa istri ditanggung suami